Ntah kenapa aku jadi teringat padamu lagi yang telah mencampakkan kami. Ah! Bukan! Kau memang tidak mencampakkan kami, tapi itulah intinya bagi aku, adik-adikku dan sebagian orang. Sedangkan sebagian yang lainnya lebih memilih untuk percaya pada kata-katamu dan keadaan yang tidak jelas yang tak sengaja terlihat oleh mereka.. Kau mengatakan pada sebagian orang itu bahwa kami yang ntah bagaimana dan tidak bisa diatur, padahal kau telah bertanggung jawab atas kami. "Tanggung jawab?" Adikku melemparkan pertanyaan itu dengan lantam ke mukamu kemudian melanjutkan, "Hanya memberi kami makan, itu yang kau sebut tanggung jawab?!" Itulah sepotong dari kalimat panjang yang tak mampu aku ulangi lagi. (Aku masih mampu mengulanginya di sini, tapi aku tak mampu teriakkan di hadapanmu seperti dia setelah kejadian itu- kejadian yang benar-benar membuat bukan hanya tetengga sebelahku saja yang tahu namun tetangga-tetangga). Namun, walau begitu, tetap saja bukan ‘image’-mu tidak buruk di hadapan si penengah itu, kaulah yang protagonis! Kau terdesak oleh keadaan dan kau pun sedang stres! Itu yang disuruhkan pada kami untuk dipahami..!
Pada sasat itu kucoba untuk memahamimu dan tidak menuntut apa-apa lagi, kubiarkan adikku menanggung deritanya, namun ternyata kau seakan melupakan segalanya. Kau biarkan adikku tidak bisa menikmati apa yang anak-anak lain nikmati yaitu sekolah.
Apa sebenarnya kau pikirkan? Apakah kau merasa dirimu sebagai tokoh protagonis? Kau bilang kau juga sedang stres, banyak yang harus kau pikirkan! Kau yang terjepit dalam hal ini, kau yang selalu didesak oleh kami! "Kalau begitu untuk apa kau menambah bebanmu lagi, dengan membawa wanita… Bukan! Tapi, gadis yang tidak perawan lagi, gadis yang ditinggalkan oleh suaminya ntah kemana!" Itu yang terucap dari bibirku. Namun kau malah berdalih karena kau butuh seseorang yang bisa jadi teman bertukar pikiran. "Teman bertukar pikiran? Bukannya teman tidurmu? Hahahaa….", tawaku dalam hati.
Setelah selang beberapa waktu, mertuamu datang membawa anak-anak perempuan itu dan sekarang mereka tinggal bersama kita! Sekarang aku tak mampu menahan lagi, aku pun segera keluar dari rumah itu. Benar-benar marah jiwaku padamu, apalagi adik perempuanku. Dia mengamuk!
Sekarang aku sedang menekan tuts-tuts pada keyboard komputer ini, menuangkan semua yang ingin kutulis tentang hidupku ini, menjadi tokoh utama dan protagonis dalam cerita kehidupanku. Terlintas juga dalam benakku, betapa enaknya perempuan itu hidup, walau mungkin aku juga merasakan kalau dia juga begitu kasihan, ntah mengapa harus berjumpa denganmu hingga jantungnya juga harus ‘dag dig dug’ ketakutan waktu itu, dirinya merasa terhimpit, pada saat itu dia merasa kalau dialah tokoh protagonis! Begitu juga kau! Ya, kita semua merasa yang paling benar… Tetapi, pada waktu aku menulis ini, akulah tokoh protagonis yang sebenarnya, diikuti oleh adik-adikku. Kami memulai kehidupan yang baru sekarang, kehidupan tanpa ada dirimu di dalamnya. Namun, kau tidak akan tersingkir dari pikiran kami yang paling jauh di dasar sana. Aku dan adik-adikku akan terus mengingatmu sebagai seseorang yang tak perlu dibalas memang, tapi akan kami tunjukkan kalau kami sanggup menjadi orang yang jauh lebih baik kehidupannya daripada hidupmu! (Karena aku ingin bertemu mama di sana, semoga kau juga…)
Pancur Batu, 2 Agustus 2008.
No Comments »
Dear God Lyric by Sarah Mclachlan
Dear God,
Hope you got the letter and
I pray you can make it better down here.
I don’t mean a big reduction
in the price of beer
But all the people that you
made in your image,
See them starving on their feet
‘Cause they don’t get enough to eat
From God
I can’t believe in you.
Dear God,
Sorry to disturb you, but
I feel that I should be heard loud and clear.
We all need a big reduction in
the amount of tears
And all the people that you
made in your image,
See them fighting in the street
‘Cause they can’t make opinions meet
About God,
I can’t believe in you.
Did you make disease, and the diamond blue? Did you make mankind after we made you?
And the devil too?!
Dear God,
Don’t know if you noticed, but…
Your name is on a lot of quotes in this book,
Us crazy humans wrote it, you
should take a look,
And all the people that you
made in your image,
Still believing that junk is true
Well I know it ain’t, and so do you
Dear God,
I can’t believe in…
I don’t believe in…
I won’t believe in heaven and hell.
No saints, no sinners, no devil as well.
No pearly gates, no thorny crown.
You’re always letting us humans down.
The wars you bring, the babes you drown.
Those lost at sea and never found,
And it’s the same the whole world ’round.
The hurt I see helps to compound
That Father, Son and Holy Ghost
Is just somebody’s unholy hoax
And if you’re up there you’d perceive
That my heart’s here upon my sleeve.
If there’s one thing I don’t believe in…..
It’s you…..
Dear God.
Kudengar ada suara tangisan yang benar-benar mengiris hati di kejauhan sana. Aku baru tahu kalau anak dari ibu yang bertempat tinggal di sana meninggal. Sang pendeta mengatakan kalau itu adalah takdir dari Tuhan. Dia juga mencoba menghibur dengan mengatakn, "Tuhan butuh seorang malaikat lagi di sisinya, maka dari itu dia mengambil anak ibu."
Begitulah yang dipercayai oleh dunia ini. Tuhan adalah sumber kebaikan juga sumber malapetaka. Tepat kata-kata dari Sarah Mclachlan dalam lirik "Dear God" di atas, dia tidak percaya lagi pada Tuhan, karena semua hal yang buruk yang terjadi atas dunia ini.
*Adam dan Hawa berdosa apakah karena takdir? ~Terkadang orang berpikir bahwa akan menjadi seperti apa dunia ini jika Adam dan Hawa tidak berdosa, pasti dunia ini akan terasa membosankan.
*Setan itu bukan pribadi, dia bersemayam dalam diri kita berdampingan dengan malaikat baik. ~Dunia mempercayai itu. Setan itu adalah manusia itu sendiri.
*Tuhan Maha Pengasih dan sekaligus Eksekutor Terkejam. ~Orang-orang dapat memakluminya karena manusia sendiri yang salah. Siapa suruh dia tidak menaati Allah. Namun, apakah memang seperti itu? Sedangkan seorang bapak manusia saja tidak tega membakar anaknya dengan bara api jika bersalah. Bukankah kasih Allah melebihi kasih seorang ibu terhadap anaknya.
Nama Tuhan telah benar-benar tercoreng! Tuhan selalu dipersalahkan atas semua hal buruk yang terjadi atas dunia ini. Padahal Alkitab mengatakan, "Tuhan tidak dapat dicobai ataupun dicobai." Jadi, apa peranan Setan atas dunia ini? Dunia ini benar-benar buruk, bukankah manusia diciptakan menurut gambar Allah, kalau begitu dunia ini adalah cerminan dari Tuhan! Apakah seperti itu? Sekali lagi, coba lirik ke arah Setan berada. Pandang dia, dari mana dia berasal? Dan apakah kamu yakin kalau Setan adalah suatu pribadi? Apakah dia adalah penguasa dunia ini?
Silahkan lihat judul "Satan Confession (Malaikat yang Dicampakkan dari Surga).
No Comments »
Kehidupanmu yang sekarang, apakah merupakan sebuah kejatuhan?
*Aku sendiri juga bingung, tapi hati ini lebih dominan berkata kalau HeLdA telah jatuh dari gunung tempat dia berdiri kokoh dahulu.
Hati? Hati bisa menipu…!
*Tapi, memang seperti itulah kenyataannya. Orang-orang pasti juga berkata begitu.
Tidak usah memikirkan perkataan orang lain…
*Ya, mereka tidak mengatakan langsung padaku, tapi mereka telah sinis padaku.
Bukankah kau punya prinsip hidup, kalau bisa kau ingin hidup sendiri…?
*Iya, memang. Tapi, ternyata itu menyiksaku! Apalagi sejak mama meninggal, aku tidak punya penopang lagi. Aku tidak bisa mewujudkan impian-impianku…
Aku bisa merasakan sedikit rasa kehilanganmu. Semua impianmu mungkin tidak akan bisa terwujud dengan mulus…
*Ya, mungkin tak akan pernah terjadi…
Eitss, aku belom selesai… Kamu mau ending ceritamu seperti yang kau katakan itu?
*Sesungguhnya tidak.
Maka dari itu, ya sudah, ini waktu bagimu untuk mengubah keadaanmu sekarang, bukannya semakin terpuruk. Bukan begitu?
*(Menghela napas)
Mengapa menghela napas? Kamu tak yakin dengan dirimu?
*Ya seperti itulah. Bukan saja aku tidak yakin dengan diriku, tapi keadaan dan kondisi yang tidak mengizinkan. Walau aku merasa diriku mampu, tapi tetap saja tidak akan bisa karena tidak ada yang menyokongku…
Ah! Aku tidak mengerti dengan dirimu… Semuanya tampak rumit jika berada dalam dirimu… Aku tak tahu harus bilang apa lagi.
*Kau sendiri saja bingung, kan?
Ya, bingung karena dirimu yang membuatku bingung, bukan apa-apa.
*(Diam)
Yang terpenting lakukanlah yang paling baik dan selalu berusaha. Oya, aku juga ingin mengingatkan, bukan yang terbaik menurutmu namun yang terbaik menurut-Nya. Kau tahu siapa yang kumaksud?
*Ya…
No Comments »
Me: "Tuhan, apa kabar?" God: "…"
Me: "Patinya baik bukan. Kau tak akan pernah kesepian seperti aku." God: "…"
Me: "Bukankan banyak malaikat di sana." God: "…"
Me: "oya, Tuhan. Aku mau ada sedikit komplain pada-Mu." God: "…"
Me: "Tentang mereka yg Kau kirim itu.." God: "…"
Me: "Huh, mereka sama sekali tidak berguna." God: "…"
Me: "Mereka semua pembohong..!" God: "…"
Me: "Mereka memang tahu bagaimana aku, aku sensitif… Tetapi, mereka telah mengingkari janji.." God: "…."
Me: "Kalau memang tidak bisa dan bakal sibuk dari awal, seharusnya mereka jangan masuk ke kehidupanku." God: "…"
Me: "Bukankah begitu, Tuhan. Kenapa Kau kirim mereka pada-Ku." God: "…"
Me: "Atau jangan.. jangan, mereka bukan Kau yang kirim kali ya…?" God: "…"
Me: "Fiuh. Ya sud lah, Tuhan… Aku mau tidur dulu, jaga diri-Mu baik-baik…" God: "…"
Me: "Aku lupa. Seharusnya aku bilang, tolong jaga diriku baik-baik ya, aku kan tidak punya teman…" God: "…"
Me: "…" God: "…"
No Comments »
My heart: "Tuhan…!"
God: "….."
My heart: "Di mana kau, Tuhan?"
God: "….."
My heart: "Aku selalu melakukan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu."
God: "….."
My heart: "Tetapi mengapa Kaulupakan aku?"
God: "……"
My heart: "Mengapa Kau biarkan penderitaan bertubi-tubi menimpa aku?"
God: "….."
My heart: "Mengapa Kauambil ibuku dari sisiku?"
God: "….."
My heart: "Bukankah masih banyak malaikat yg bersama-Mu?"
God: "….."
My heart: "Mengapa Kau begitu tega mencabut nyawa ibuku?"
God: "….."
My heart: "Sekarang Kau biarkan ayahku tak peduli padaku…"
God: "….."
My heart: "Aku tak punya siapa-siapa lagi sekarang, selain adik-adikku…"
God: "….."
My heart: "Tetapi Engkau tidak puas! Sekarang Kau rampas adik-adikku dariku…!"
God: "….."
My heart: "Oh, Tuhan! Aku benar-benar sendiri sekarang…"
God: "….."
My heart: "Bahkan bintang-bintang pun tak hadir malam ini."
God: "….."
My heart: "Aku tak tahu harus berkata apa lagi."
God: "….."
My heart: "Silahkan Kau ambil nyawaku!"
God: "….."
My heart: "Mengapa Kau tak ambil nyawaku?!"
God: "….."
My heart: "Yang kurasakan sekarang hanyalah kekosongan."
God: "….."
My heart: "Ambil nyawaku, Tuhan!"
God: "….."
My heart: "Mengapa Kau tak ambil! Aku tak tahan hidup menderita seperti ini!"
God: "….."
My heart: "Sekarang aku tak punya siapa-siapa lagi, tetapi penderitaan tetap Kautimpakan!"
God: "….."
My heart: "Biarkan aku yang menyerahkan nyawaku pada-Mu… Daripada aku harus sndiri seperti ini!"
God: "….."
My heart: "Bukankah ini takdirku?!"
God: "….."
My heart: "Suratan takdir?!"
God: "….."
My heart: "Takdir!!!"
God: "….."
2 Comments »
Pernahkah diriu terbayang jika Adam dan Hawa tidak berdosa?
Mungkin pasti asyik sekali dunia ini, tanpa penderitaan…!
Namun jika kita balik bertanya, "Tanpa penderitaan?"
Berarti dunia ini pasti monoton dong…
Ada kalimat seperti ini:
"Dengan adanya tantangan dalam hidup, hidup pasti terasa labih hidup."
Bukankah begitu?
Ya, saya pikir juga begitu…
Hidup ini akn terasa lebih menantang jika kita menghadapi problem. Dengan adanya problematika dalam hidup , itu akn membantu proses menuju ke kedewasaan. Mungkin pernyataan-pernyataan di atas tampaknya benar. Namun, semua yang ada di dunia ini belum bisa kita pelajari. Sebenarnya hidup kita tidak akan membosankan! Masih banyak yang perlu dipelajari oleh manusia. Dan, manusia tidak akan bisa mempelajari semua pekerjaan Sang Pencipta…
Stop talking ’bout dat!
Saya punya pertanyaan…
Kejadian 3:7 berbunyi:
"Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat."
Di atas adalah salah satu ayat di Alkitab (karena saya adalah seorang Kristen, maka sudut pandang dan dasar saya adalah Alkitab), yang menceritakan permulaan manusia jatuh ke dalah dosa. Kalau ingin lengkapnya, silahkan baca Kejadian 3. Di situ dicerikan ketika manusia pertama yakni Adam dan Hawa memakan buah pohon yang dilarang oleh Tuhan untuk dimakan, maka mereka sadar kalau mereka telanjang.
Ya, dari sini saya berpikir bahwa jika manusia sempurna, merak akan telanjang, sama seperti bayi…
Manusia penuh dosa akhirnya dan dia malu akan dirinya sendiri…
No Comments »
Seorang pastor dari negara Jerman memberkati pasukan tentara yang akan berangkat ke medan perang. Sementara dari Austria, pastor yang lain juga memberkati tentara-tentaranya yang akan berangkat ke medan perang.
Apa yang kamu pikirkan membaca kejadian tadi?
Kedua pasukan itu akan saling berseteru di medan perang. Siapakah yang akan menang? Padahal mereka telah diberkati dan mungkin mereka adalah orang-orang yang tunduk kepada Allah mereka. Jika salah satu dari mereka menang, orang-orang akan berpikir berarti Allah berada di pihak mereka. Namun, bukankah kalau begitu Allah berat sebelah?
Sifat fanatik dari setiap penganut agama membuat banyak perseteruan.
Yah, ini tidak menjad dasar bahwa agama adalah penghancur perdamaian dunia. Di situ yang salah adalah orangnya bukan agama. Namun, ada pepatah yang mengatakan, "Pohon yang baik terlihat dari buahnya."
Pernahkah kalian berpikir kenapa di dunia ini begitu banyak agama?
Dari mana semua agama itu berasal?
Ssstt…
Kalau kita merasakannya, para pemimpin dunia sekarng ini mulai mau berdiri sendiri, mereka ingin lepas dari bayang-bayang agama. Dan sebagai dalih mereka mulai mencurigai beberapa agama.
Popularitas agama sepertinya mulai berkurang.
Tampak dari orang-orang yang mengaku beragama tetapi sebenarnya mereka tidak menjalankannya. Begitu juga dengan pemimpin-pemimpin dunia ini.
No Comments »
Bel berbunyi tanda istirahat, dia beranjak dari tempat duduknya lalu sambil memegang buku itu berjalan ke tempat duduk si nomor satu. Mereka asyik sekali tampaknya membahas soal-soal itu.
~~~
Bel berbunyi tanda istirahat, dia berjalan melewati mejaku tanpa memedulikan aku lalu pergi bersama si nomor satu entah kemana, mungkin ke kantin dugaku. Aku hanya bisa diam saja, sibuk membereskan buku-bukuku. Kemudian, ketika aku berjalan ke kantin tidak sengaja aku berpapasan dengan mereka. Sebenarnya aku ingin cuek saja, namun aku tidak bisa, jadi kuputuskan hanya mengangkat alis tanda salam.
~
Aku meminta uang angsuran sahabatku itu (aku adalah salah satu anggota multi level), namun dia mengatak kalau dia tidak bawa duit. Ya, aku memakluminya. Ternyata pada hari itu, ada sumbangan yang datang padaku. Aku menolaknya, pada waktu itu aku merasa diriku rendah sekali sekarang. Aku tahu kalau aku bukan siapa-siapa lagi sekarang, jadi walau teman-teman sekelasku berniat baik, tapi tetap aku tidak bisa menerimanya. Aku merasa sahabatku yang mengusulkan itu sok tahu tentang aku, dia cuma tahu kalau aku lagi butuh duit. Tapi, sebenarnya bukan itu yang kumau. Pada waktu itu, aku samapi menangis di kelas. Dia memang datang ke bangkuku, dan mengatakan, "Kalau Helda sedih, kami juga sedih.."
Lalu, sehabis pulang sekolah, tidak disengaja kami menunggu angkutan umum di tempat yang sama, dia menyodorkan uang angsuran padaku sambil mengatakan, "Tadi aku lupa kalau aku bawa duit."
Oh, pikirku. Pda waktu itu sebenarnya, aku sakit hati, ternyata dia hanya tahu kalau aku lagi membutuhkan uang. Sebegitunya kah? Pemikiranmu terlalu pendek!
~
Aku tidak masuk sekolah. Pada malam harinya, kudengar SMS-nya dibacakan di radio, dia mengatak kalau dia difitnah sama temannya dan sedang punya masalah dengan pacaranya. Ternyata, keesokan harinya aku masuk sekolah, aku baru tahu masalahnya. Aku tidak tahu memang dia yang melakukannya atau dia difitnah sebagai pembocor rahasia kelas kami. Tapi, yang pasti kulihat di situ, sepertinya persahabatannya dengan si nomor satu begitu kuat. Si nomor satu membela dia habis-habisan, sampai-samapi si nomor satu juga ikutan menangis. Jam pelajaran TIK, kami pun beranjak ke lab. komputer, mereka berdua tidak ikut, ntah apa yang mereka bicarakan, lalu sekitar setengah jam, mereka masuk ke lab, dia memang menyapaku dan sempat bercanda denganku, walau sebenarnya hati ini dongkol. Sampai, sekolah telah usai, mereka berdua tetap bersama…
~
Aku hanya bisa mengatakan,"She was my bez fren…"
Ya, sekarang itu semua telah berlalu mungkin. Dia terlalu sibuk dengan obsesinya, tidak tahu kalau sahabatnya ini (entahlah kalau dia menganggapku sebagai sahabata atu tidak) membuthkan seorang sahabat yang bisa mengerti diri ini. Aku memang bukanlah Helda yang sejenius dulu, dan bukanlah Helda yang punya uang banyak untuk bisa ikut bimbingan ini bimbingan itu, bukalah Helda yang terfokus lagi dengan pelajaran. Tapi, seharusnya dia mengerti itu dan berusaha sepenuh jiwa untuk menumbuhkan lagi semangat seorang Helda yang telah terpuruk ke dalam jurang kekelaman ini.
(Semoga dia membaca ini)
No Comments »
Setiap aku memasuki ruangan itu, senyumku seketika hilang. Aku benci mereka semua, aku iri pada mereka…
Sekarang Helda hanyalah orang biasa, bukanlah Helda yang selalu dielu-elukan orang banyak. Itulah yang membuatku benar depresi. Kau tahu rasanya?
Bel berbunyi, saatnya bapak itu masuk, menjelaskan, kemudian memberikan soal…
"Siapa bisa jawab?" tanyanya…
Aku hanya bisa diam, sementara dia langsung berdiri dari mejanya dan beranjak ke depan. Ah, irinya aku…
Bahkan soal yang mudah pun, tak mampu kujawab.
"Helda kau begitu menyedihkan!" Mungkin rival-rivalku mengatakan begitu…
Sementara itu, penghibur lara pun telah hilang, aku rindu padanya… Kalau ada dia, semangat selalu menggempurku. Kalian tahu kenapa? Karena dia selalu mendukungku, dia rela berkorban, tidak seperti pria separuh baya itu, dia belum bisa menerima kenyataan, dia belum bisa mengemban tanggung jawab ini sepenuhnya.
Mungkin itu juga penyebab wanita itu hilang, terlalu banyak tenaga yang dia harus keluarkan sehingga tak sanggup lagi dia bergerak. Lelah rasanya, hingga ingin tidur walau hanya sebentar. Namun, dia terlalu lelap, hingga akhirnya dia tidak sadar kalau dia benar-benar tertidur untuk selama-lamanya. Ah! Tapi, aku juga menyadari, kalau dia mungkin benar-benar ingin tidur selama-lamanya…
Dan akhirnya, aku sendiri sekarang…!
No Comments »
Januari..
Sepertinya akan memberikan keceriaan.
Entah mengapa aku merasakannya…
Januari yang bermatahari, membuat senyumanku tersungging di bibirku. Walau terkadang ketika memasuki ruangan itu lagi, senyumanku seketika hilang. Tapi, aku berpikir… Untuk apa aku harus terpuruk, apalagi masih banyak ara yang merintangi jalanku menuju kesuksesan. Jadi, aku meyakinkan didriku unutk bersemangat lagi, kembali menjadi seorang Helda yang dulu.
Helda yang selalu berwarna merah, yang selalu membara untuk mencapai cita-citanya.
Memang ada kesedihan yang menimpaku, yaitu aku tidak bisa mengikuti bimbingan yang diadakan oleh sekolahku untuk persiapan UN, karena biaya yang tidak sanggup ditutupi oleh ayah. Tapi, ya sudahlah, aku tidak mau membebani ayah. Toh, aku bisa belajar sendiri. Kemudian yang membuat aku bersemangat adalah, aku sempat mendengar guru Matematika aku (dia adalah guru favorit aku, dia baik sekali) mengatakan pada temanku yang tidak mengikuti bimbingan itu juga bahwa dia percaya kalau aku bisa lulus UN walaupun tidak ikut bimbingan itu. Ahh, senang sekali mendengarnya. Bapak itu masih percaya pada kemampuanku, walau 1 semester kemarin, nilai-nilaiku turun drastis…
Semangat!
Tapi, di samping itu semua, ada yang benar-benar membuat jiwaku terus merana, ayah yang sering pulang larut malam. Aku begitu sedih. Dia belum bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadapa kami. Dia masih tetap mementingkan dirinya. Bahkan tanggal 22 Januari kemarin, dia tidak pulang. Aku terbangun dari tidurku, melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 3 pagi, tiba-tiba saja derai air mata membasahai pipiku, otakku dipenuhi pertanyaan apakah dia bersama wanita yang sedang didekatinya sekarang? Menjumpai keluarganya. Bukan aku mau melarang dia memiliki hubungan dengan seorang wanita, tapi seharusnya dia tahu apa yang harus diprioritaskannya dan mengerti perasaan anak-anaknya yang maih diliputi depresi karena kehilangan sosok itu…
"Sosok itu tidak akan pernah hilang dariku, Ayah! Bahkan semakin hari aku semakin merindukannya, setiap hari air mata ini jatuh hanya untuknya, tidak akan ada seorang pun yang mampu menggantikannya!"
No Comments »
|